Di kalangan penikmat anime, Fate/Zero sering kali dinobatkan sebagai titik masuk dari seluruh franchise Fate. Ditulis oleh Gen Urobuchi, penulis naskah brilian yang juga meracik intensitas politik dan tragedi di musim pertama Aldnoah.Zero anime ini dengan berani membuang jauh-jauh kiasan protagonis shonen naif yang sering kita temui di seri action fantasi lainnya. Sebagai gantinya, kita disajikan konflik ideologis yang matang dan kompleks dari para pria dan wanita dewasa yang sudah tergerus oleh kerasnya realita.
Nilai jual utama Fate/Zero tidak hanya terletak pada naskahnya yang berbobot, tetapi juga pada presentasi visual dari Ufotable. Jauh sebelum studio ini dikenal luas lewat Demon Slayer, Fate/Zero adalah bukti awal dari julukan "Unlimited Budget Works" meskipun julukan ini sebenarnya diambil dari seri “Fate/stay night: Unlimited Blade Works”. Penggunaan efek partikel yang memukau, integrasi CGI yang mulus pada elemen sihir, hingga arahan sinematografi dalam setiap koreografi pertarungannya benar-benar memanjakan mata. Dedikasi tingkat tinggi pada kualitas visual ini mengingatkan kita pada karya modern lain di anime review TAP seperti Vivy : Flourite Eye's Song dan Mob Psycho 100, di mana studio secara maksimal mendobrak batasan medium animasi 2D.
Selain itu, dinamika ensemble cast dalam anime ini dieksekusi dengan sangat rapi. Berbeda dengan Sword Art Online yang ceritanya terpusat pada satu pahlawan tunggal, Fate/Zero membagi porsi penceritaannya secara adil kepada tujuh faksi yang bertarung. Setiap Master dan Servant memiliki motivasi yang kuat, latar belakang yang tragis, dan filosofi hidup yang saling bertabrakan. Dipadukan dengan komposisi soundtrack megah dari Yuki Kajiura, anime ini berhasil merangkai sebuah tragedi epik yang meninggalkan kesan mendalam jauh setelah episode terakhirnya selesai.