86 (Eighty-Six) bukanlah sekadar anime mecha yang berisik dengan ledakan robot. Ini adalah sebuah studi karakter dan kritik sosial yang dibungkus dalam tragedi perang paling menyayat hati di era anime modern. Sutradara Toshimasa Ishii menunjukkan kelasnya lewat storyboarding jenius. Ia sering menggunakan teknik match cut dan transisi visual paralel untuk memperlihatkan kontras yang menjijikkan antara kehidupan mewah Lena di dalam tembok Republik dan realita berdarah Shin di medan tempur Distrik 86.
Bagi penikmat setia di Anime Reviews TAP, kalian mungkin akan langsung teringat dengan Aldnoah.Zero. Kedua anime ini sama-sama digarap oleh A-1 Pictures, mengusung tema perang politik antar faksi dengan elemen mecha, dan sama-sama disuntikkan nyawa oleh komposer musik legendaris Hiroyuki Sawano. Namun, jika Aldnoah.Zero terkadang tersandung pada pacing dan resolusi karakter, 86 justru mengeksekusi bobot emosional dan intrik politiknya dengan nyaris sempurna. A-1 Pictures membuktikan evolusi kualitas animasi dan penceritaan mereka yang melompat sangat jauh jika dibandingkan dengan era awal Sword Art Online.
Tingkat keputusasaan dan kekejaman dunia dalam 86 bisa disandingkan dengan kengerian di Made in Abyss. Kematian karakter dalam anime ini bukanlah sekadar shock value murah untuk memancing air mata, melainkan konsekuensi logis dari sebuah sistem fasis yang menganggap nyawa manusia sebagai suku cadang mesin.
Secara audio, kolaborasi Hiroyuki Sawano dan Kohta Yamamoto menghasilkan soundtrack yang tidak hanya epik saat adegan bertarung, tetapi juga sangat emosional saat menyisipkan elemen vokal (seperti lagu Avid dan Voices of the Chord) di momen-momen paling krusial. 86 berhasil menceritakan narasi kelam tentang diskriminasi, survivor's guilt, dan pencarian makna hidup di ambang kematian dengan sangat brilian.